Rabu, 13 November 2013

ibu/ayah


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1DL7SL6YU3FFGG8gLd5C3EDriYeNAMZ0HS-jiVdCuo3rmCyql77KuLq6eOy3aSaJc8bn9X_OKAZFqpLdGsZ42THXd6VopbKuEyEJmmwcL20JnO43wa3AmigplnhhQ3Z4hf7gIOzFMo0M/s1600/17845_1230181086160_1578092914_563770_1999306_n.jpg

Hijjaz_Rindu


Rindu itu adalah
Anugerah dari Aallah
Insan yang berhati nurani
Punyai rasa rindu
Rindu pada kedamaian
Rindu pada ketenangan
Rindukan kesejahteraan
Dan juga kebahagiaan
Orang-orang yang bertaqwa
Rindu akan kebenaran
Kejujuran dan keikhlasan
Keredhaan Tuhannya
Orang mukmin merindukan
Anak-anak yang soleh
Isteri-isteri solehah
Keluarga bahagia
Para pencinta kebenaran
Rindukan suasana
Masyarakat yang terjalin
Aman dan sejahtera
Merindukan tertegaknya
Kalimah Allah di muka bumi
Dan dalam merindukannya
Keampunan Tuhannya
Dan seluruh umat itu
Merindukan cahaya
Yang menyinari kehidupan
Rindu pada Tuhan

Kalau Cinta, Jangan Maksiat


Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mempersilakan.
Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.
(Jalan Cinta Para Pejuang_ Salim A Fillah)

 


Jamaah ini bukan jamaah malaikat tanpa hasrat. Meski tiap pertemuan ada sekat dan hijab, tetap saja fitnah bersiap siaga menjerat. Suatu fitrah nan indah dari Sang Pencipta. Tentu saja tak layak diumbar tanpa ikatan yang sah.
“Nantikan ku di batas waktu, ya ukhti” jelas bukanlah risalah yang dibenarkan syariat, yaa Akhi…
Belajarlah dari kisah romansa ‘Ali dan Fatimah. Yang sebenarnya saling memendam rasa begitu lama. Namun tak jua Sang Pria memberanikan diri memulainya walau lamaran Abu Bakar dan Umar al Khattab telah bermula. Apalah aku ini, pikir sang pemuda, hanya seorang pemuda yang tak berpunya bahkan sekadar mahar seadanya.
Tapi lihatlah ketika Allah berkehendak.
“Aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar mas kawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Hai Ali engkau wajib bergembira sebab Allah ‘Azza wa jalla sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi!” Demikian perkataan Sang Rasul dalam riwayat yang diceritakan Ummu Salmah RA.
Sungguh, sebuah Romansa cinta penuh gairah ketaatan pada Robb nya yang syetan pun tak mereka kabari gejolaknya. Dan cinta pun bersemi indah hingga ke surga.
Maka mencinta lah sejantan ‘Ali. Menyimpan rapat di hati atau persilakan sang pujaan meniti mencari ridha Illaahi tanpa engkau temani. Materi bukan halangan berarti, ya Akhi. Cukuplah janji Allah engkau yakini. Maka Bismillaah…mantapkan hati.
***
“Nikahkan aku dengan nya, Yaa Abi…” atau “Ta’aruf-kan Ana dengan si ikhwan, Wahai Murabbi…” begitu syariat mengajarkan kita, Yaa Ukhti…
“Tapi kan, kita ini akhwat. Masa iya kita yang memulai?”
Ohoho terlupakah kita kekasih sang Rasulullah, Bunda Khadijah?
Dengan selisih umur yang tak sedikit, dengan status janda dan bujang, dengan strata social yang tak sepadan, cinta mereka pun menjadi kisah cinta mengagumkan. Cinta yang tetap abadi walaupun Khadijah tak lagi di sisi. Bahkan Sang Rasul menangis ketika ditanya kesediaannya untuk kembali menikah sembari berkata, “Masih adakah orang lain setelah Khadijah?”
Sejarah telah mencatat, tak berkurang izzahnya sang muslimah ketika mengutarakan isi hatinya agar bisa terjaga dalam bingkai yang sah. Lantas, apa yang engkau khawatirkan, wahai Muslimah? Tak khawatirkah dirimu syetan merajai benak mu hingga berzina-lah hati mu sepanjang masa menunggu pangeran impian mu itu?
Di Jalan Cinta Para pejuang, kita belajar untuk bertanggung jawab atas perasaan kita
Maka bertanggung jawablah atas apa yang engkau rasa. Mengutarakannya dengan cara syariat jelas bukanlah dosa. Bermain-main dengan gejolak hati justru memancing datangnya syetan penggoda. Tanyakan hati mu seberapa kuat diri mu menahannya. Ingat juga syetan tak kenal putus asa. Dan kita bukanlah pribadi terjaga bak ‘Ali dan Fatimah.
Tak selalu cinta bersemi di taman cinta hingga abadi. Penerimaannya memekarkan benih di hati. Tentu penolakan bukanlah tanda berakhirnya hari-hari. Ia adalah jalan yang dipilih Tuhan mu dan Tuhan nya. Mungkin juga pertanda belum siapnya melangkah. Hingga perlu berbenah hingga yang terbaik menurutNYA menyapa. Yakinlah IA Maha Tahu yang terbaik untuk kita.
Kau dan aku telah memilih langkah. Dan di jalan juang lah kita berada. Sebuah jalan yang tak ada pertolongan selain kekuatan NYA. Dan pertolongan kan sirna ketika kita hiasi jalan juang ini dengan maksiat atas sucinya fitrah.

BERCINTA


Cinta yang kau dambakan cinta itulah yg aku rindukan rasa kasih sayang yang ada di hatimu itulah aku seorang lelaki merindukan moga itu bukan permainan bahasa indahmu moga itu adalah kejujuran nalurimu

Andai ada ruang untuk insan seperti aku terlalu ingin aku menyentuhi jiwa tulusmu

 Sayanglah mawar putih yg ku cari-cari subur indah di halaman pagi bicaramu buat bergetar setiap denyut nadi kalbu lelakiku syahdu menanti sekali sayang kata sudi berjuta kali aku telah sudi

 Dengan sesangat gembira hati selamat hadir di kamar rinduku diamilah penuh kerelaan peluklah cintaku sekuat cintamu kerana telah lama aku memeluk cintamu sedangkan sayang tidak memahami

 Detik percintaan ini tiada lagi malam yg sunyi tiada lagi embun yg sepi bayu pasti bertiup membawa berjuta wangi siang yg kepanasan tidak lagi gersang kita terus bersama dalam indah asmara

Dunia akan tersenyum melihat kita sebuah percintaan bahagia kita cipta dari kejujuran seorang lelaki dan seorang wanita

 Mawar putih yg ku temui bahagialah jiwa mu hingga kehujung hari akan ku jaga akan ku belai sepenuh hati .

Rabu, 2 Oktober 2013

Tentang SABAR........

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah memberikan gambaran bahawa:
  • Sabar bukan bererti menyerah tanpa usaha  namun, sabar juga bukan bererti perjuangan tanpa hasil. 
  • Sabar adalah taman kesejukan di antara usaha yang maksima dan tawakkal yang sepenuhnya. 
  • Sabar adalah timbulnya keyakinan yang kuat kepada janji Allah. Allah tidak mungkir janji.
  • Dengan sabar, hati begitu optimis, bahawa Allah akan segera menyambut niat dan keinginan tulus seorang hamba. 
Apa akan berlaku jika hati dipenuhkan dengan  mengharap sambil memaksa terhadap kehendak Allah? 

Yang pasti ialah habis tenaga kita, dan niat suci kitapun hancur bekecai bak debu berterbangan dan wujudlah prasangka buruk terhadap Allah. Wal'iyazubillah.

Tidak ada satupun keadaan yang paling indah, melainkan bila kita dapat bersabar; baik ketika kita senang mahupun ketika kita susah, ketika kita berada mahupun ketika kita miskin, lapang mahupun sempit. 

Allah berjanji bahawa hanya hamba-Nya yang istiqamah dan berjiwa teguh serta yakin dengan  Qadar serta Qadha' Allah SWT sahaja  yang mampu bersabar, dalam mengharungi suka duka kehidupan.

Dalam Al-Quran terdapat banyak perkataan sabar, sama ada dalam bentuk ismun (kata nama) ataupun dalam bentuk fa'el (perbuatan/kata kerja). Ini menunjukkan betapa  pentingnya sabar kepada seorang mukmin pada sisi Allah SWT.

Contoh ayat-ayat al-Quran:


Sabar merupakan perintah daripada Allah SWT.  

"Wahai sekalian orang-orang yang beriman! Mintalah pertolongan (untuk menghadapi susah payah dalam menyempurnakan sesuatu perintah Tuhan) dengan bersabar dan dengan (mengerjakan) sembahyang; kerana sesungguhnya Allah menyertai (menolong) orang-orang yang sabar" (Al-Baqarah 2:153)

"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan), dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, di medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya, kamu berjaya (mencapai kemenangan)". (A-li'Imraan 3:200 

"Dan turutlah apa yang diwahyukan kepadamu serta bersabarlah (dalam perjuangan mengembangkan Islam) sehingga Allah menghukum (di antaramu dengan golongan yang ingkar, dan memberi kepadamu kemenangan yang telah dijanjikan), kerana Dia lah sebaik-baik Hakim". (Yunus 10:109)

"Dan sabarlah (wahai Muhammad, engkau dan umatmu, dalam mengerjakan suruhan Allah), kerana sesungguhnya Allah tidak akan menghilangkan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan". (Hud 11:115) 

"Dan bersabarlah (wahai Muhammad terhadap perbuatan dan telatah golongan yang ingkar itu); dan tiadalah berhasil kesabaranmu melainkan dengan (memohon pertolongan) Allah; dan janganlah engkau berdukacita terhadap kedegilan mereka, dan janganlah engkau bersempit dada disebabkan tipu daya yang mereka lakukan". (Al-Nahl 16:127)


Larangan isti’jal (tergesa-gesa).


(Jika demikian akibat orang-orang kafir yang menentangmu wahai Muhammad) maka bersabarlah engkau sebagaimana sabarnya Rasul-rasul "Ulil-Azmi" (yang mempunyai keazaman dan ketabahan hati) dari kalangan Rasul-rasul (yang terdahulu daripadamu); dan janganlah engkau meminta disegerakan azab untuk mereka (yang menentangmu itu). Sesungguhnya keadaan mereka semasa melihat azab yang dijanjikan kepada mereka, merasai seolah-olah mereka tidak tinggal (di dunia) melainkan sekadar satu saat sahaja dari siang hari. (Penerangan yang demikian) cukuplah menjadi pelajaran (bagi orang-orang yang mahu insaf). Maka (ingatlah) tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik - derhaka. (Al-Ahqaaf 46:35)


Pujian Allah kepada orang-orang yang bersabar:

".... dan ketabahan orang-orang yang sabar dalam masa kesempitan, dan dalam masa kesakitan, dan juga dalam masa bertempur dalam perjuangan perang Sabil. orang-orang yang demikian sifatnya), mereka itulah orang-orang yang benar (beriman dan mengerjakan kebajikan); dan mereka itulah juga orang-orang yang bertaqwa". (Al-Baqarah 2:177)


Allah sangat mencintai orang-orang yang sabar.

"Dan berapa banyak dari Nabi-nabi (dahulu) telah berperang dengan disertai oleh ramai orang-orang yang taat kepada Allah, maka mereka tidak merasa lemah semangat akan apa yang telah menimpa mereka pada jalan (agama) Allah dan mereka juga tidak lemah tenaga dan tidak pula mahu tunduk (kepada musuh). Dan (ingatlah), Allah sentiasa mencintai orang-orang yang sabar". (A-li'Imraan 3:146) 


Kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar.
"Dan taatlah kamu kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah kamu berbantah-bantahan; kalau tidak nescaya kamu menjadi lemah semangat dan hilang kekuatan kamu, dan sabarlah (menghadapi segala kesukaran dengan cekal hati); sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar". (Al-Anfaal 8:46)


Mendapatkan pahala berupa syurga dari Allah.
"Dan orang-orang yang sabar kerana mengharapkan keredaan Tuhan mereka semata-mata, dan mendirikan sembahyang, serta mendermakan dari apa yang Kami kurniakan kepada mereka, secara bersembunyi atau secara terbuka; dan mereka pula menolak kejahatan dengan cara yang baik; mereka itu semuanya adalah disediakan baginya balasan yang sebaik-baiknya pada hari akhirat; - (Ar-Ra'd 13:22)iaitu Syurga yang kekal yang mereka akan memasukinya bersama-sama orang-orang yang mengerjakan amal soleh dari ibu bapa mereka dan isteri-isteri mereka serta anak-anak mereka; sedang malaikat-malaikat pula akan masuk kepada mereka dari tiap-tiap pintu; - (Ar-Ra'd 13:23)(Memberi hormat dengan berkata): "Selamat sejahteralah kamu berpanjangan, disebabkan kesabaran kamu. Maka amatlah baiknya balasan amal kamu di dunia dahulu. (Ar-Ra'd 13:24)


Hadis  tentang sabar. 

Dalam hadis terdapat banyak sekali tentang sabda Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang kesabaran. Sebagai contoh; dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam an Nawawi mencantumkan 29 hadis berkenaan sabar.

Antaranya: 

Kesabaran merupakan dhiya’ (cahaya yang amat terang). Dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah SAW mengungkapkan, "…dan kesabaran merupakan cahaya yang terang…" (HR. Muslim) 

Kesabaran merupakan sesuatu yang perlu diusahakan dan dilatih secara optimum.(bersungguh-sungguh). Rasulullah SAW pernah menggambarkan: "…barangsiapa yang berusaha untuk sabar, maka Allah akan menjadikannya seorang yang sabar…" (HR. Bukhari) 

Kesabaran merupakan anugerah Allah yang paling baik. Rasulullah mengatakan, "…dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran." (HR Bukhari dan Muslim) 

Kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang mukmin, sebagaimana hadis yang terdapat pada muqadimah; 

"Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, kerana segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur kerana (ia mengatahui) bahawa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar kerana (ia mengetahui) bahawa hal tersebut adalah baik baginya." (HR. Muslim)


Seseorang yang sabar akan mendapatkan pahala syurga. 


Dalam sebuah hadis digambarkan: 

Daripada Anas bin Malik ra berkata, bahawa aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah berfirman: "Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya, kemudian dia bersabar, maka aku gantikan syurga baginya". (HR. Bukhari). 


Sabar merupakan sifat para nabi.  

Ibnu Mas’ud dalam sebuah riwayat pernah mengatakan: Daripada Abdullah bin Mas’ud berkata: "Seakan-akan aku memandang Rasulullah SAW menceritakan salah seorang nabi, yang dipukul oleh kaumnya hingga berdarah, kemudian ia mengusap darah daripada wajahnya seraya berkata, "Ya Allah ampunilah dosa kaumku, kerana sesungguhnya mereka tidak mengetahui".  (HR. Bukhari)


Kesabaran merupakan ciri orang yang kuat. 

Rasulullah SAW pernah menggambarkan dalam sebuah hadis; Daripada Abu Hurairah ra berkata, bahawa Rasulullah bersabda, "Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergusti, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika ia sedang marah". (HR. Bukhari)


Kesabaran dapat menghapuskan dosa. 

Rasulullah SAW menggambarkan dalam sebuah hadisnya; Daripada Abu Hurairah ra. bahawa Rasulullah SAW pernah bersabda; "Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, bahaya dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut". (HR. Bukhari & Muslim)


Kesabaran merupakan suatu keharusan. 

Seseorang tidak boleh putus asa hinggakan dia menginginkan kematian. Sekiranya memang sudah sangat terpaksa hendaklah ia berdoa kepada Allah, agar Allah memberikan hal yang terbaik baginya; apakah kehidupan atau kematian. Daripada Anas bin Malik ra, bahawa Rasulullah SAW bersabda;  "Janganlah salah seorang di antara kalian mengangan-angankan datangnya kematian kerana musibah yang menimpanya. Dan sekiranya ia memang harus mengharapkannya, hendaklah ia berdoa; "Ya Allah, teruskanlah hidupku ini sekiranya hidup itu lebih baik untukku, dan wafatkanlah aku sekiranya itu lebih baik bagiku". (HR. Bukhari Muslim)


Pembahagian sabar dan kaitannya dengan hukum yang lima iaitu: 

1. Sabar yang Wajib.  

Sabar ini terbahagi  kepada 3:
  • Sabar dalam ketaatan dan dalam menunaikan kewajipan (melakukan segala suruhan Allah)
  • Sabar dalam menahan diri daripada melakukan kemaksiatan dan segala yang dilarang oleh Allah.
  • Sabar terhadap semua bala bencana dan musibah yang ditakdirkan.
2. Sabar yang Sunat.  

Sabar ini juga ada 3:  
  • Sabar dalam menahan diri dalam menghadapi perlakuan buruk dengan membalas keburukan pula; 
  • Sabar dalam hal-hal yang disunatkan; dan 
  • Sabar dalam menahan diri daripada perkara-perkara yang makruh. 
3. Sabar yang Mubah.  

Sabar yang mubah adalah menahan diri daripada semua perbuatan yang kedua-duanya sama baik antara melakukan dan meninggalkan dan bersabar atasnya, kerana sabar itu berkaitan dengan nafsu yang selalu berkeinginan dan menyukai agar keinginan-keinginannya selalu dituruti dan dipenuhi. 

4. Sabar yang Makruh. 

Ada beberapa contoh sabar yang makruh yang dapat menjelaskannya, iaitu : 

Pertama: Menahan diri daripada kelapangan dalam makanan, minuman, pakaian dan hubungan suami isteri sehingga hal itu membahayakan kesehatan badannya; 

Kedua : Menahan diri daripada menggauli isterinya ketika isterinya memerlukan berbuat demikian dan tidak ada mudharat bagi si suami. karena yang demikian akan memudharatkan bagi isteri dan ini bermakna dia telah mengabaikan salah satu hak hidup suami isteri, manakala Islam menganjurkan untuk menjaga hak-hak tersebut dan menggaulinya secara baik; 

Ketiga: Tidak menegur apabila melihat seseorang yang melakukan perkara-perkara yang makruh dalam solat,  pada hal dia tahu hal itu sebahagian daripada hal-hal yang dimakruhkan dalam solat

Keempat: Menahan diri daripada perbuatan yang disunatkan seperti kebiasaan memberi sedekah kepada salah seorang yang memerlukan sedikit wang atau yang lainnya setiap minggu atau setiap bulan, lalu tiba-tiba ia menghentikan hal itu. 

5. Sabar yang Haram.  

Secara ringkas Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah berkata : 
  • "Sabar atas kewajiban adalah wajib dan sabar dalam menahan diri daripada kewajiban adalah haram. 
  • Sabar dalam menahan diri daripada yang haram adalah wajib dan sabar menerima perlakuan yang dilarang adalah haram. 
  • Sabar dalam menunaikan yang sunah adalah disunahkan dan sabar untuk tidak melakukannya adalah makruh.  
  • Sabar dalam menahan diri dari yang makruh adalah sunah. 
  • Sabar yang dibolehkan adalah mubah”.
Mudah-mudahan menambah pengetahuan kita dan dapat mengamalkannya. Sesungguhnya Allah berserta dengan orang-orang yang sabar.

Rabu, 25 September 2013

PENGENALAN SAYA... :)


                                                                      BIODATA SYA


NAME SAYA: MUHAMMAD HAZIM BIN MOHAMED

UMUR SAYA: 18

TARIKH LAHIR SAYA: 11/06/1995

TEMPAT LAHIR SAYA: SUNGAI KOROK

TEMPAT TINGGALSAYA: LOT 201 RPA DESA SERI ISKANDAR JALAN TRONOH 23600 SERI      ISKANDAR PERAK.

MAKANAN KEGEMARAN SAYA: NASI USA, DAN SEMUA MAKAN YANG HALAI

MINUMAN KEGEMARAN SAYA: AIS TEO, DAN  SEMUA MINUMAN YANG HALAI

HOBI SAYA: MASAK, MASAK KEK, MAIN KOMPUTER, MAIN GAMES DAN  LAIN

CITA - CITA : CHE..